Senin, 12 Januari 2015

(Tidak) Mudah

Ternyata menulis itu (tidak) mudah.
Saya tidak mau mengganti (tidak) mudah menjadi sulit..
Saya tidak mau terkesan pesimis juga.. 
Ada hal yg lebih (tidak) mudah, yaitu konsistensi dalam menulis..
Saya yang notabene perpaduan antara koleris dan sanguinis, ternyata cukup kuat untuk dijadikan alasan atas ketidak konsistensian saya dalam menulis *alasan aja lu ty* 
Hehehe..

Menuangkan apa yang saya lihat & pikirkan ke dalam sebuah tulisan memang merupakan tantangan buat saya..

Jadi ingat, dulu ketika masih duduk di bangku SMA, guru favorit saya yang kebetulan guru bahasa indonesia, memanggil saya ke ruangannya.. Saya ingat betul kalimat yang beliau lontarkan dari mulutnya "Okty, kamu harus ujian ulang khusus bagian mengarang.. Karangan kamu berengsek okty.. Maaf saya harus menggunakan kata itu.. Saya sulit mencari kata yang pas untuk mendeskripsikan kekecewaan saya terhadap karangan yang kamu buat"
Yup, berengsek..
Kalau saat itu sudah ada lagu nya Cita Citata yang berjudul Sakitnya tuh disini, sudah dapat dipastikan saya akan menyanyikan lagu tersebut di hadapannya..

Beliau adalah guru favorit saya.. Beliau adalah teman curhat saya.. Dan beliau lah salah satu motivator saya sehingga saya 3 kali mendapat rangking 1 di kelas selama SMA..
Beliau terkenal sangat baik & bersahabat.. Makanya tidak heran beliau menjadi guru favorit..
Kalau beliau sudah mengeluarkan kalimat ajaib seperti berengsek, tandanya memang tulisan saya saat itu benar-benar hancur..

Banyak pelajaran yang saya ambil dari kejadian tersebut, salah satunya sebagai pemicu saya untuk bisa menuangkan yang saya rasakan ke dalam sebuah tulisan..
Sebagai alasan kenapa saya harus bermanfaat bagi banyak orang melalui sebuah buku yang saya tulis kelak.

Terdengar terlalu optimiskah mempunyai buku yang saya tulis sendiri?
Percaya atau tidak, saat ini saya sudah menulis di catatan kecil judul-judul bab untuk buka saya nanti..
Bahkan menentukan judul setiap bab bukan perkara mudah.. Bagaimana membuat pointers sehingga buku saya nanti terstruktur dan dapat memanjakan para pembaca dan penikmat buku.
Every big step is start from the first step right?

Membuat blog ini adalah salah satu media pembelajaran saya dalam menulis..
Konsisten? Tidak.
Tapi setidaknya saya terus mencoba.
Alasan sibuk dan tidak sempat adalah jurus terhandal untuk dijadikan kambing hitam kenapa blog ini tidak rutin mengeluarkan tulisan.

Mencari ide atau "ilham" tidak semudah yang saya bayangkan..
Biasanya toilet atau kedai kopi adalah tempat dimana ide saya keluar begitu saja.. Mengalir deras tanpa diminta..
Tapi masa iya sih kalau mau cari ide harus ke dua tempat tersebut? :p

Saya pernah menemui seorang penulis buku yang telah menerbitkan puluhan buku, beliau bilang kalau kunci utama dalam menulis adalah "berani menulis di satu kalimat pertama tanpa tapi & tanpa nanti"..
Saya bersyukur berada dilingkungan para penulis.. Ayah saya, Om saya, kakak saya, dan ada beberapa teman dekat saya yang telah banyak menelurkan karya dalam bentuk buku, jurnal, tulisan di koran dan majalah..

Mereka panutan saya..

Tahun 2015 ini saya mencoba untuk "memasarkan" diri saya..
Di kantor, saya harus meningkatkan kinerja saya..
Di bisnis kangen water, saya harus segera menjadi seorang 6A2-3..
Di keluarga, saya harus semakin menjadi seorang yang diandalkan dan dicintai..
Saya harus berlari meningkatkan kapasitas diri saya.
Saya harus haus akan ilmu.
Saya harus selalu belajar dari banyak orang dan banyak hal.
Saya harus belajar menghargai atas skenario indah kehidupan yang Allah berikan.
Saya harus menjadi seorang yang disiplin.

Semoga hal tersebut bisa menjadi dasar naiknya katup diri saya.. Sehingga tahun ini saya bisa menelurkan draft buku saya & 2016 buku tersebut terbit :)

Impian akan hanya menjadi sekedar bunga tidur kalau kita tidak pernah memantaskan diri dengan action

Salam,
@OktyShalihati


Senin, 05 Januari 2015

Sekedar bercerita

Semenjak dipercaya menjadi Manajer SDM & Fasilitas dikantor saat ini, nampaknya saya belum 100% memahami dunia ini secara mendalam.
Kenapa bisa begitu?
Pertama, ini dunia baru buat saya..
Kedua, ini keluar dari zona nyaman saya..
Dan ketiga, menjadi manajer bukan hanya sekedar paham dunianya, tetapi bagaimana kemampuan kita menjadi seorang pemimpin..

Nampaknya poin ketiga ini yang paling sulit 😊
Bagaimana tidak, divisi SDM & Fasilitas berarti bergelut dengan manusia dan benda mati sekaligus.. Bagaimana memanusiakan manusia dan menjaga keseimbangan infrastruktur secara keseluruhan.
Peranan jiwa kepemimpinan amat sangat dibutuhkan.. How we handle the workers and make them happy and always always always obey the rules. 

Posisi ini menyenangkan dan menegangkan sekaligus.. Ada jiwa penasaran yang kuat dari dalam diri saya untuk menghandle ini semua. Ya, di 3 bulan saya menjadi manajer ini, nampaknya passion saya dengan dunia ini semakin bertumbuh.. 😊

Malam ini, saya coba membuka semua catatan-catatan kecil hasil rapat dengan pimpinan, manajer lain, dan staf.. Mencoba merasakan apa sih inti dari coretan-coretan yang pernah saya tulis.. Mencoba memahami dan meresapi apa sih poin utama yang harus saya lakukan.. 
What is excatly the main point and priority i should done..

Tutup mata & bernafas dengan dalam dan tenang.. Memikirikan apa yang terlewat.
Am I just too worry? Or this kind of thing is a common things?
Ahh.. Ga tau!

Salah satu guru kehidupan saya pernah bilang bahwa leaders are readers! So, saya mencoba untuk mencari dan membaca beberapa informasi mengenai banyak hal yang terkait pekerjaan.. Sedikit memaksakan diri untuk mengurangi waktu istirahat dengan googling dan membaca buku..
Terkadang bingung dengan informasi yang saya dapat.. Bagaimana mengolahnya dan mengartikannya.. Hahaha bahkan seringnya begitu.. Pada akhirnya informasi yang saya dapat hanya akan sekedar menambah list buku/jurnal yang saya baca saja 😄

Salah satu hal yang saya sukai saat ini adalah bergaul dengan manajer dari divisi lain, terlepas mereka adalah orang yang menyenangkan untuk dijadikan sahabat, tetapi juga masukan mereka terhadap pekerjaan dan sikap saya amatttt sangat dibutuhkan.. 
Saya mencoba menginternalisasi mereka satu persatu.. Mencoba menerapkan hukum kaizen, dengan mengambil banyak hal baik untuk saya adopsi dan tiru..

Begitu juga dengan para pimpinan yang amat sangat membantu dan meyakinkan bahwa saya mampu melakukan ini semua..

Para staf yang menerima saya.. Bagaimana "si anak baru" ini didengar.. Ahh ini sudah menjadi hal yang menyenangkan dan meningkatkan rasa percaya diri saya.. 😊

Bersyukur berada dilingkungan ini.. Alhamdulillah..
Semoga saya bisa memberikan yang terbaik di pekerjaan. Bisa menjadi manajer yang dicintai. Bisa bersikan adil dan tegas. Aamiin YRA.

Can I have your Aamiin? 😊